Home‎ > ‎Evalusasi Pendidikan‎ > ‎

Hitam & Putih Ujian Nasional ( UN/UNAS )

Ujian Nasional (UN( telah dilaksanakan sejak jaman Pak Bambang Sudibyo sampai dengan sekarang (Pak Muhammad Nuh). Banyak kontroversi mengenai UN, dan banyak yg mengatakan UN tidak membuat pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Sebagai informasi tambahan, setiap UN, pemerintah mengeluarkan dana kira- kira Rp. 1 Trilyun. 

Pak Heru Widiyatmo menyarakankan agar UN diganti dengan National Assessment ( bukan ujian kelulusan) setiap 3 tahun sekali yang kredibel dengan melibatkan para pakar penilaian pendidikan, dan hasilnya digunakan sebagai salah satu kriteria sertifikasi guru, kepala sekolah, dan kepala dinas. Bagi mereka yang masih rendah pemerintah perlu membantunya, dan yang sudah baik layak mendapat penghargaan dan menjadi percontohan. Setelah itu, kalau sampai tiga kali periode assessment mereka yang tertinggal tidak menunjukan peningkatan mutu, maka mereka perlu pensiun dini atau dengan ikhlas mengundurkan diri [1].

Selain UN, UMPTN pun sebenarnya bermasalah. Ujian Masuk Perguruan Tinggi atau UMPTN (termasuk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SNMPTN) juga masuk dalam kategori high-stake test (tes nasional penentu kelulusan) dan juga bermasalah, boleh jadi masalahnya lebih serius. Siswa bayar mahal untuk ikut UMPTN, tapi mereka tidak memperoleh informasi berapa nilainya. Tindakan penyelenggara ujian ini melanggar aturan dari Joint Committee on Testing Practices (2001), dimana diatur kewajibkan penyelenggara ujian untuk mengumumkan nilai peserta ujiannya.

Karena kompetensi adalah hal yang abstrak, orang bisa salah mendeskripsikannya. Di Indonesia, pembuat ujian umumnya mengartikan kompetensi ini sebagai materi pelajaran yang harus dikuasai siswa dengan metode menghafal, trik-trik tertentu (jalan pintas), drilling, bimbingan belajar, dan tryout. Indikasi dari arti kompetensi ini tersirat pada isi, pola, dan kualitas penyajian soal-soal ujian kita, dari mulai classroom tests sampai UN dan UMPT [2].

Akibat dari ujian menggunakan soal-soal seperti ini menyuburkan lembaga bimbingan belajar (baca bimbingan tes) dan merusak metode pembelajaran. Akibat lebih lanjut, ujian hanya menghasilkan generasi bangsa dengan kompetensi yang dangkal. Generasi yang pandai menghafal dan pintar menggunakan “jalan pintas” untuk menduduki jabatan maupun mendapatkan kekayaan, padahal yang diharapkan dari ujian tingkat nasional Indonesia adalah menghasilkan generasi yang dapat berfikir logis, bernalar, kreatif dan inovatif. [2]

Negara sebaiknya memiliki lembaga testing yang profesional dan independen, contohnya seperti negera tetangga kita, Singapura dan Malaysia, masing-masing memiliki Singapore Examination and Assessment Board dan Lembaga Peperiksaan Malaysia, Singapura dan Malaysia melaksanakan yang mirip dengan  UN seperti negara kita [2]. Sedangkan negera yang tidak memiliki UN, UMPT seperti amerika memiliki American College Testing. [2]

SelectionFile type iconFile nameDescriptionSizeRevisionTimeUser
ĉ
View Download
1. Nurdin Halid dan Ujian Nasional, Heru Widiatmo(Mantan Pegawai Balitbang Kemendiknas Indonesia)   45k v. 3 Apr 3, 2012, 7:37 PM Wildan Maulana
ĉ
View Download
2. Sistim Ujian di Indonesia: Termometer Rusak. Heru Widiatmo(Peneliti di American College Testing, USA)December 7, 2009  40k v. 4 Apr 3, 2012, 7:51 PM Wildan Maulana
Comments